0

Berkat kemajuan teknologi transportasi dan teknologi komunikasi, peradaban manusia kini sampai pada tahap yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan berbagai budaya lain. Sebagian interaksi budaya itu bersifat tatap muka, sebagian lagi lewat media massa, sebagian interaksi bersifat selintas (berjangka pendek), sebagian lagi berjangka panjang atau permanen.

Melancong ke mancanegara, belajar di luar negeri, melobi pengusaha asing, meyakinkan wakil negara sahabat akan kebijakan politik negara sendiri, konferensi lintas agama demi perdamaian dunia, konsultasi dokter dengan pasien, diskusi antara orang tua dengan putrinya yang duduk di bangku SMA, pengarahan atasan kepada bawahan, penayangan berita lewat TV tentang invasi suatu negara/ras, seorang murid pindah sekolah, melakukan pijat dengan tunanetra, diskusi LSM pembela kaum perempuan dengan wakil pemerintah daerah, dll pada dasarnya merupakan komunikasi antara orang-orang berbeda budaya, seberapa kecil pun kadar perbedaan budaya tersebut. Jadi semua itu adalah fenomena komunikasi bernuansa perbedaan budaya.

KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA / KAB (intercultural communication) adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang yang berbeda budaya.1 Ketika komunikasi terjadi antara orang-orang berbeda bangsa, kelompok ras atau komunitas bahasa, komunikasi tersebut disebut komunikasi antar budaya. Jadi pada dasarnya KAB mengkaji bagaimana budaya berpengaruh terhadap aktivitas komunikasi : apa makna pesan verbal dan nonverbal menurut budaya-budaya bersangkutan, apa yang layak dikomunikasikan, kapan mengkomunikasikannya, bagaimana cara mengkomunikasikannya (verbal dan nonverbal), dsb.

KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA / KLB (cross-cultural communication) secara tradisional membandingkan fenomena komunikasi dalam budaya-budaya berbeda. Contoh bagaimana gaya komunikasi pria dalam budaya Amerika dan budaya Indonesia. Tetapi lambat laun KAB dan KLB sering dipertukarkan. Secara konvensional KAB lebih luas dan lebih komprehensif daripada KLB.

KOMUNIKASI ANTAR ETNIK (interethnic communication) adalah komunikasi yang terjadi antara kelompok orang yang ditandai dengan bahasa dan asal-usul yang sama. Oleh karena itu komunikasi antar etnik juga merupakan bagian dari KAB, sebagaimana juga komunikasi antar ras, komunikasi antar agama dan komunikasi antar gender. Dengan kata lain, komunikasi antar budaya lebih luas dari bidang-bidang komunikasi yang lainnya.

KOMUNIKASI ANTAR RAS adalah komunikasi yang terjadi pada sekelompok orang yang ditandai dengan ciri-ciri biologis yang sama. Secara teoritis 2 orang dari ras berbeda boleh jadi memiliki budaya (terutama ditandai dengan bahasa dan agama) yang sama. Secara implisit komunikasi antar ras juga mengandung dimensi komunikasi antar budaya, karena biasanya ras berbeda memiliki bahasa dan asal-usul berbeda. Kalaupun kedua pihak yang berbeda ras sejak lahir diasuh dalam budaya yang sama, potensi konflik tetap ada dalam komunikasi mereka, mengingat pihak-pihak bersangkutan menganut stereotip-stereotip tertentu (biasanya negatif) mengenai mitra komunikasinya yang berbeda ras itu.
Contoh, orang Amerika berkulit putih (nenek moyangnya berasal dari Eropa) dan orang Amerika berkulit hitam (nenek moyangnya berasal dari Afrika) telah hidup berdampingan di negara yang sama selama berabad-abad, tidak dengan sendiri komunikasi diantara mereka harmonis. Hingga sekarang mereka mempunyai potensi konflik yang tetap besar, mengingat mereka memiliki prasangka antarras.

Selain pengertian yang berusaha mengaitkan antara komunikasi dan budaya, masih ada kajian lain yang juga sama dalam usaha untuk mengaitkan komunikasi dan budaya yaitu Komunikasi Internasional. Pendekatan umum dan dasar kedua bidang ini memang sulit dibedakan. Akan tetapi, jika komunikasi antarbudaya berlangsung pada tingkat budaya, dan komunikasi internasional berlangsung pada tingkat negara, yang berarti melewati batas-batas negara. Jadi ada kalanya komunikasi antar budaya identik dengan komunikasi antar bangsa, meskipun tidak selalu demikian. Masalahnya, sering sekelompok orang yang memiliki budaya yang sama (contoh, Indonesia dan Malaysia) dipisahkan oleh batas negara, sehingga bisa dikatakan komunikasi antara Indonesia dan Malaysia adalah komunikasi antar bangsa dalam suatu budaya yang sama. Sebaliknya, kelompok-kelompok orang dengan budaya-budaya berlainan boleh jadi terdapat di negara yang sama, seperti di Amerika Serikat dan Australia, sehingga komunikasi antarbudaya berlangsung di negara yang sama. Perbedaan lainnya adalah KAB lebih banyak menyoroti realitas sosiologis dan antropologis, sementara komunikasi antarbangsa lebih banyak mengkaji realitas politis.

KAB sebagai FENOMENA SOSIAL
Pemahaman mengenai KAB bukan sesuatu yang baru, karena sebenarnya sejak dulu manusia sudah saling berinteraksi yang tentu saja manusia-manusia tersebut mempunyai latar belakang kebudayaan yang berbeda, maka KAB telah dapat dikatakan berlangsung.
Yang baru dari KAB adalah studi sistematik mengenai apa yang sebenarnya terjadi apabila kontak atau interaksi antara orang-orang yang berbeda latar belakang kebudayaannya berlangsung.
Dulu KAB terjadi hanya dalam lingkup sempit dan kecil, yang biasanya terjadi pada golongan minoritas.
Misal, pejabat pemerintahan atau pedagang tertentu yang mempunyai kesempatan/ kepentingan untuk berkunjung ke negeri-negeri lain.

Keadaan sekarang sudah berubah. Media massa pun ikut berperan dalam proses meningkatnya KAB. Dengan bantuan media massa dan abad serba modern ini (salah satu tandanya adalah semakin canggihnya tehnologi) terbentuklah desa semesta (global village), yang salah satu dampaknya adalah semakin meningkatnya kontak-kontak komunikasi dan hubungan antar berbagai bangsa dan negara.

PERLUNYA KAB
Faktor-faktor yang mendorong perkembangan KAB dapat dilihat dari 3 segi :
1. Segi internasional
Telekomunikasi & transportasi
Kemajuan teknologi, khususnya di bidang komunikasi dan transportasi jelas membawa pengaruh positif maupun negatif terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat. Teknologi komunikasi dan transportasi telah menyatukan dunia dengan penduduk yang berbeda pandangan politik, sistem sosial dan kepercayaan. Komunikasi dan transportasi membawa bangsa-bangsa ke dalam “Era Globalisasi”. Meningkatnya teknologi komunikasi dan transportasi menciptakan suatu jaringan komunikasi dunia.

2. Satelit
Satelit komunikasi ini memungkinkan jumlah manusia yang banyak dengan jarak yang berjauhan dapat dibujuk, diajarkan dan dihibur secara serentak dalam satu waktu yang sama.

3. Kesadaran manusia
Kesadaran manusia dan bangsa akan adanya kesempatan dan kebutuhan sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan kejiwaan, termasuk kebutuhan akan informasi. Dengan informasi orang dapat mengetahui apa yang telah, sedang dan akan terjadi di suatu masyarakat atau negara, serta dapat mengetahui tindakan yang harus dilakukan untuk memperbaiki hidupnya.

Dengan berkurangnya hambatan-hambatan komunikasi, maka dunia seakan terdesak pada kebutuhan untuk mencapai saling pengertian antara sesama umat manusia. Peperangan yang terjadi mungkin saja disebabkan oleh kurang atau tidak adanya pengertian di antara pihak-pihak yang bertikai karena adanya kepentingan nasional, falsafah hidup, keinginan ataupun harapan-harapan pihak lainnya.
Sesuatu yang dianggap baik oleh suatu pihak belum tentu bernilai positif bagi yang lain dan bahkan sebaliknya.

4. Segi Domestik
Perubahan-perubahan di dunia internasional tentu saja membawa dampak perubahan kebudayaan di dalam negeri. Termasuk munculnya berbagai macam kelompok sub-budaya yang menyimpang dari kebudayaan dominan masyarakat.

Sub budaya adalah : suatu komunitas rasial, etnik, regional yang memperlihatkan pola-pola perilaku yang membedakannya dari sub-budaya lainnya dalam suatu budaya atau masyarakat yang melingkupinya.
Pada umumnya sub budaya terjadi karena adanya minoritas di dalam budaya.

Contoh sub budaya & dampak adanya perubahan internasional ke domestik :
Adanya persamaan hak untuk memperoleh pendidikan yang sama bagi masyarakat Indian di AS. Adanya kesempatan yang sama dalam menduduki jabatan pemerintahan untuk kulit hitam.
Akan tetapi, kontak-kontak baru ini seringkali menemui kegagalan atau tidak menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Masalah-masalah yang muncul tidak saja disebabkan perbedaan bahasa, pengertian tentang penggunaan waktu, pakaian, warna kulit, tetapi lebih mendalam dan kompleks karena menyangkut perbedaan nilai dan cara memandang kehidupan.

Di Indonesia, adanya beberapa fenomena sosial tidak mustahil akan membuka kemungkinan terjadinya kesalah pahaman atau bahkan konflik fisik.

FAKTOR YANG MENDORONG STUDI KAB DI INDONESIA
1. Adanya kenyataan bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari sejumlah suku bangsa dengan latar belakang kebudayaan, bahasa daerah, dialek, nilai-nilai dan falsafah pemikiran agama, kepercayaan dan sejarah yang berbeda.
2. Adanya pergeseran nilai dalam masyarakat sebagai akibat pembangunan di segala sektor kehidupan.
3. Derasnya arus informasi dan komunikasi yang dibawa oleh media massa (modern) dan para wisatawan yang memperlancar kontak-kontak kebudayaan.
4. Pertambahan penduduk yang menuntut peningkatan sarana dan prasarana umum baik dalam kualitas maupun kuantitas.
5. Segi Pribadi
Sebagai makhluk sosial manusia harus berhubungan (bersosialisasi) dengan manusia lainnya. Dalam melakukan sosialisasi tersebut tidak jarang berkenalan, berteman, bergaul atau bersahabat dengan orang lain yang berbeda suku bangsa, dialek, nilai-nilai dan falsafah pemikiran, latar belakang budaya, dll.
Untuk itu maka diperlukan suatu pengertian diantara mereka. Saling pengertian ini dapat diwujudkan apabila dari setiap individu secara pribadi mau belajar budaya orang lain.
Individu yang gagal dalam mengadaptasi budaya lain dapat menderita gegar budaya (culture shock) yaitu kecemasan yang disebabkan oleh hilangnya tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan sosial.

Syarat yang diperlukan individu untuk melakukan KAB secara efektif :
1. Adanya sikap menghormati anggota budaya lain sebagai manusia.
2. Adanya sikap menghormati budaya lain sebagaimana adanya, dan bukan sebagaimana yang kita kehendaki.
3. Adanya sikap menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak.

Leave a Reply